Wabah dan Pendewasaan Sosial

Wabah dan Pendewasaan Sosial 1

Pandemi sudah hampir dua tahun dan tak kunjung usai. Ragam perubahan siklus dapat kita rasakan dalam kehidupan yang serba new normal ini. Walaupun istilah new normal sendiri adalah inisiasi untuk membuat masyarakat kita legawa akan perubahan yang sedikit demi sedikit menggeser kebiasaan masyarakat.

Hampir semua sektor kelabakan dan memunculkan inisiatif baru untuk menstabilkannya. Sektor ekonomi, pendidikan, bahkan budaya pun hampir keluar dari role kebiasaannya. Hal ini memberi dampak yang luar biasa. Di masyarakat bawah banyak yang mengeluhkan bahwa “sekolah hari ini tidak terasa seperti sekolah, tahu-tahu lulus, tahu-tahu naik kelas.”

Hal ini menjadi satu dilema, di mana pendidikan sebelumnya adalah aktivitas yang dilaksanakan dengan tatap muka, bersosial dan komunikasi secara langsung. Pun dalam konteks ekonomi, apapun bentuknya menjadi serba online dan berada di dalam jaringa. Hal ini benar-benar merubah siklus kebiasaan yang biasanya dilakukan dengan berjumpa dan negosiasi dengan tatap muka, justru sekarang dituntuk untuk komunikasi dan negosiasi melalui jaringan.

Secara tidak langsung, perubahan ini memberikan efek pendewasaan. Artinya setiap orang dituntut untuk mengembangkan diri, menjaga diri dan memasuki kebiasaan baru tanpa harus meninggalkan tradisi lama. Kita bisa melihat dari perkembangan teknologi yang hampir semua masyarakat berada dalam siklus perkembangan ini. Mau tidak mau pun akhirnya mengikuti.

Walaupun yang perlu menjadi catatan adalah penyikapan atas teknologi itu sendiri. Bagaimana seharusnya control personal dapat mempengaruhi pada control sosialnya. Yang mana control sosial ini sebenarnya adalah perkembangan dari pendewasaan diri atau control personal.

Sikap inilah yang perlu menjadi perhatian ketika ada pergerseran dalam siklus atau kebiasaan lama menuju kebiasaan baru. Tentunya harus ada pendampingan dan pendekatan yang tepat. Pertanyaannya siapa yang kemudian menjadi pelaku pendampingan dan pendekatannya? Kita tidak bisa berpangku tangan dan menunggu kebijakan-kebijakan dari pemerintah, karena tidak semua hal harus berkaitan dengan pemerintah.

Yang jelas adalah pendampingan itu bisa dimulai dari anggota keluarga atau komunitas sosial. Lembaga pendidikan memiliki peran ini, karena hari ini dengan pandemi ini, lembaga pendidikan pun keagamaan dituntut lebih dekat dengan masyarakat. Dengan begitu pendampingan untuk memunculkan sikap control personal dan control sosial bisa diatasi bersama.

Karena semua pihak terdampak, maka seharusnya tidak ada yang mengambil keuntungan dari kondisi ini. Justru saling berbagi dan membersamai agar bisa berjalan beriringan. Apalagi dalam pendekatan jawa, kondisi hari ini dianggap sebagai pagebluk, yang mana pagebluk itu sendiri lahir karena etika dan moral manusianya yang mungkin keluar dari rolenya, atau melewati batasan-batasan sosial kemanusiaan.

Sehingga perlu adanya peningkatan kesadaran dalam diri agar mampu melihat dan menerawang lebih jauh lagi bahwa kondisi pandemi adalah kondisi di mana setiap orang harus memiliki pendewasaan akan setiap perubahan. Minimal merubah pola sikapnya. Karena disadari atau tidak hal ini berkaitan dengan ruang transendental. Ruang di mana energi-energi berkumpul dan memberi dampak terhadap kehidupan sosial.

Oleh karena itu, memaklumi dan menyadari kondisi saat ini menjadi sangat penting, karena dengan pendewasaan sosial, yang tumbuh dari control personal akan segala sesuatu perubahan di sekitar adalah wujud dari terus berjalannya dan berkembangnya pribadi-pribadi yang dewasa dan mampu menyikapi ragam perubahan.

Sebagaimana yang kita tahu, bahwa perkembangan adalah sebuah keniscayaa. Bisa diawali dari perubahan mental atau sikap sosial, pun kondisi sosial seperti hari ini, pandemi. Bisa juga muncul karena eskpansi-ekspansi sosial yang diakibatkan oleh teknologi yang terus berkembang.

Oleh sebab itu, perlu kita garis bawahi, bahwa perkembangan atau perubahan kondisi sosial seperti kondisi pendemi ini, justru menjadi kabar baik agar kita dapat mendewasakan diri dan berani mengambil sikap atas perubahan yang tidak tahu kapan dan bagaimana pola bergulirnya ke depan.***

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

A.Dahri