Warner Bros. Discovery marah ke ByteDance menjadi sorotan industri hiburan global pada Februari 2026. Konflik ini dipicu tuduhan penggunaan aset intelektual tanpa izin untuk melatih model video AI. Warner Bros. Discovery murka ke ByteDance karena menilai nilai eksklusivitas karakter mereka terancam dan berpotensi merugikan ratusan juta dolar.
Warner Bros. Discovery marah ke ByteDance, Tuduh Gunakan Karakter Ikonik untuk Latih AI
Laporan Variety pada 18 Februari 2026 menyebut Warner Bros. Discovery menuding ByteDance memakai ribuan jam film dan serial untuk melatih AI. Karakter seperti Batman, Superman, hingga naga dari Game of Thrones disebut muncul dengan kemiripan tinggi di video AI. Warner Bros. Discovery marah ke ByteDance karena tidak ada izin lisensi maupun royalti yang dibayarkan.
“Karakter ini merupakan sumber kehidupan perusahaan. ByteDance kini terlibat pelanggaran secara terang-terangan atas hak milik yang sama yang telah kami lindungi selama bertahun-tahun,” tulis Wayne Smith, VP bagian hukum Warner Bros.
Pernyataan tersebut menegaskan posisi tegas studio dalam melindungi kekayaan intelektual yang telah dibangun puluhan tahun. Gugatan hukum diajukan untuk menghentikan pelatihan AI, menghapus data, serta menuntut ganti rugi bernilai ratusan juta dolar.
Dampak Seedance 2.0 dan Reaksi Industri
Kehebohan bermula setelah peluncuran Seedance 2.0 pada pekan sebelumnya yang langsung viral di media sosial. Dalam hitungan hari, muncul klip pertarungan lintas semesta seperti Batman melawan Spider-Man dan Superman melawan Thanos. Warner Bros. Discovery marah ke ByteDance karena fitur ini dianggap sengaja dirancang dengan karakter berhak cipta sebagai fondasi model.
Pada Senin, 16/2/2026, ByteDance menyatakan akan menambah pengamanan untuk mencegah penggunaan IP tanpa izin. Namun, pernyataan hukum studio menolak pendekatan tersebut karena dianggap tidak menyentuh akar masalah desain sistem. Mereka menegaskan, “Para pengguna bukanlah penyebab utama pelanggaran tersebut,” untuk menyoroti tanggung jawab platform.
Pernyataan lanjutan menambahkan kritik tajam terhadap desain produk AI tersebut. Kutipan resmi menyebut, “Mereka membangun hanya di atas fondasi pelanggaran yang sudah ByteDance letakkan karena Seedance telah lengkap dengan karakter-karakter hak cipta kepunyaan Warner Bros. Discovery. Itu ialah pilihan desain yang ByteDance sengaja.” Argumentasi tersebut rupanya menegaskan bahwa pelanggaran dipandang sistemik dan terencana.
Potensi Kerugian dan Masa Depan Regulasi AI
Warner Bros. Discovery marah ke ByteDance karena potensi kerugian finansial dinilai sangat besar dan dapat menurunkan nilai lisensi karakter global. Estimasi awal menyebut ganti rugi dapat mencapai ratusan juta dolar jika pelanggaran terbukti di pengadilan. Kekhawatiran utama adalah hilangnya kontrol eksklusif atas karakter yang menjadi pilar pendapatan studio.
Studio juga menyoroti pentingnya penerapan guardrails sejak awal peluncuran teknologi AI generatif. Mereka mempertanyakan mengapa pembatasan prompt dan filter karakter tidak diterapkan sejak hari pertama peluncuran produk. Kritik ini memperlihatkan dorongan agar regulasi AI lebih ketat dalam melindungi karya kreatif.
Setelah melihat ulasan di atas, Warner Bros. Discovery marah ke ByteDance bukan perkara konflik bisnis semata, tetapi pertarungan menentukan masa depan hak cipta di era kecerdasan buatan. Kasus ini menjadi preseden penting yang akan memengaruhi regulasi global dan strategi platform AI ke depan. Jika gugatan dikabulkan, ekosistem AI generatif harus menyesuaikan model pelatihan agar menghormati lisensi kreator dan studio.





















