Wasiat Dalam Perspektif Imam Mazhab

Wasiat Dalam Perspektif Imam Mazhab

berasal dari bahasa Arab Washaitu bi kadza aushaltuhu (saya menjadikan sesuatu itu untuknya).

Berarti orang yang berwasiat adalah orang yang menyambung apa yang telah ditetapkan pada waktu hidupnya sampai dengan sesudah wafatnya.

Secara istilah syar’i dikatakan juga ialah seseorang memberi barang, atau piutang, atau sesuatu yang bermanfaat dengan catatan bahwa pemberian termaksud akan menjadi hak milik si penerima meninggalnya si pemberi .

Para ulama kontemporer seperti Syaikh San’ani dalam kitab beliau Subul As-Salam mendefinisikan sebagai “Perjanjian tertentu yang disandarkan kepada sesuatu sesudah meninggal”.

merupakan suatu akad yang boleh dan tidak mengikat, sehingga dapat dibatalkan oleh salah satu pihak yaitu dari pihak pemberi .

Dengan demikian dapat dikatakan menghibahkan atau menghadiahkan harta dari seseorang kepada orang lain, apabila si pewasiat meninggal dunia, baik dijelaskan lafaz ataupun tanpa lafaz.

Baca juga  Lebaran, Sudahkah Menyiapkan Jawaban untuk Segala Pertanyaan dari Sanak Keluarga?

Berikut ini adalah pembahasan mengenai dalam :

1. Mazhab Syafi’i

Menurut mazhab Syafi’i, adalah pemberian suatu hak milik yang berkuat kuasa selepas berlakunya kematian orang yang membuat sama ada dengan menggunakan perkataan atau sebaliknya.

Imam Syafi’i dalam pendapat lamanya yang diakui oleh Ibnu Abdul Barri sebagai ijma’ ulama, bahwa wasiat itu tidak wajib berdasarkan dalil makna hadis dari Ibnu Umar R. A. itu.

Karena seandainya tidak mewasiatkan, niscaya dia bagikan semua hartanya kepada antara para ahli warisnya berdasarkan ijma’ para ulama.

Lalu, jika wasiat sifatnya wajib, maka pasti ia sudah mengeluarkan sebagian dari hartanya sebagai pengganti wasiat tersebut.

2. Mazhab Hambali

Menurut mazhab Hambali, wasiat adalah pemberian harta yang terjadi setelah berlakunya kematian sama ada dalam bentuk harta (‘ain) atau manfaat.

Baca juga  Doa yang Wajib Diamalkan Menjelang 10 Hari Akhir Ramadhan 1443 H

Dikalangan ahli hukum mazhab Hambali dijelaskan bahwa, wasiat akan menjadi wajib apabila wasiat itu ketika tidak dikerjakan akan membawa hilangnya hak-hak atau peribadatan.

Contohnya yaitu, menanggung kewajiban zakat, haji, kafarat dan lain-lain.

Wasiat menjadi makruh apabila wasiat dilakukan oleh orang yang tidak meninggalkan harta yang cukup, sedangkan ia memiliki ahli waris yang membutuhkan.

Wasiat menjadi haram apabila dilaksanakan melebihi sepertiga harta yang dimiliki, atau berwasiat kepada seseorang yang berburu harta.

Wasiat menjadi mubah jika dilakukan tidak sesuai dengan petunjuk syar’i, contohnya berwasiat kepada orang yang kaya.

3. Mazhab Hanafi

Menurut mazhab Hanafi, wasiat adalah kepemilikan yang berlaku setelah kematian dengan cara sumbangan.

Dikalangan ahli hukum mazhab Hanafi, mensyaratkan orang yang berwasiat itu hendaknya adalah orang yang mempunyai keahlian untuk memberikan kepemilikan kepada orang lain.

Baca juga  Niat Dan Keutamaan Puasa Tarwiyah

4. Mazhab Maliki

Menurut mazhab Maliki, wasiat adalah suatu akad yang menetapkan kadar 1/3 saja bagi tujuan wasiat dan wasiat tersebut akan terlaksana setelah berlakunya kematian pewasiat.

Imam Malik berpendapat bahwa jika orang yang meninggal dunia tidak berwasiat apa-apa maka tidak perlu dikeluarkan harta untuk keperluan wasiat, tetapi jika orang yang meninggal dunia itu menyatakan wasiatnya maka harus dikeluarkan sepertiga hartanya untuk kepentingan wasiat itu.

Ulama fikih sepakat menyatakan bahwa orang yang berwasiat itu disyaratkan telah berakal, namun para ulama berbeda pendapat dalam masalah baligh.

Ulama mazhab Hanafi dan mazhab Syafi’i berpendapat bahwa orang yang berwasiat itu disyaratkan baligh dan berakal, oleh sebab itu wasiat untuk anak kecil yang belum baligh menurut mereka tidak sah, karena wasiat merupakan akad yang bersifat pemindahan harta secara sukarela tanpa imbalan.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Muhammad Ghoisan Azizan