Ya! Ini Alasan Orang Lebih Suka Buku Fiksi daripada Non Fiksi

Ya! Ini Alasan Orang Lebih Suka Buku Fiksi daripada Non Fiksi 1

Halo lagi para pembaca digstraksi. Bagaimana kabar hari ini? Semoga cerah ya di sana. Lalu bagaimana kabar kalian? Semoga senantiasa baik selalu juga yah.

Bicara soal buku fiksi, hemmm… Kalian nyambungnya ke mana nih? Apakah otak kalian langsung berpikir ke buku-buku cerita masa kecil dan juga novel atau.. malah langsung eneg, karena bukan pecinta cerita fiksi? Bebas lah ya, semua orang punya favoritnya masing-masing. Baik fiksi maupun non fiksi sama-sama memiliki manfaatnya masing-masing. Dan pasti kalau dikonsumsi secara berlebihan juga memiliki dampak buruknya serta.

Sumber gambar : pinterest
Sumber gambar : pinterest

Di berbagai postingan dalam media sosial, kita sering melihat review atau ulasan terhadap film-film dan novel yang isinya fiksi semua. Mayoritas. Dan hal itu juga banyak terjadi bagi berbagai macam kalangan. Mengapa bisa begitu ya? Mengapa orang bisa dominan menyukai hal-hal fiksi ketimbang sebaliknya? Mari berpikir dengan tenang dan simak penjelasan berikut seperti yang dilansir dari WahanaRiau.com dan psikologihore.com.

Pengertian Buku Fiksi

Pertama, kita perlu tahu tentang pengertian dari buku fiksi itu sendiri dahulu. Buku fiksi yakni buku yang mengandung berbagai macam cerita di dalamnya serta bersifat “imajinatif”. Buku fiksi memiliki kebebasan cerita di dalamnya, tidak perlu pengetahuan rumit untuk membuatnya karena hanya butuh daya khayal atau imajinasi dari sang penulis.

Semakin tinggi dan berkualitas daya khayal seorang penulis, biasanya karya yang ia hasilkan akan lebih baik. Namun, tak jarang ada buku fiksi yang memakai riset khusus dan bahan referensi ilmiah dalam ceritanya agar lebih keren. Biasanya jenis ini bisa kita kenali dengan genre science fiction. Bahasa dalam cerita fiksi biasanya menggunakan bahasa populer serta ringan dan asyik untuk dibaca lama-lama.

Contoh karya-karya fiksi bisa berupa novel, puisi, cerpen, fabel, komik, drama dan sebagainya.

Sumber gambar : pinterest
Sumber gambar : pinterest

Bedanya dengan buku non fiksi, ialah buku non fiksi membahas kejadian atau peristiwa yang sebenarnya, realistis, serta informatif. Bahasanya pun cenderung formal, kaku, serta membutuhkan data yang akurat kebenarannya.

Contoh dari buku non fiksi itu sendiri misalnya, jurnal, biografi, ensiklopedia, sejarah, kesehatan, dan lain-lain.

Menghibur sekaligus Memperbaiki Mood

Sumber gambar : pinterest
Sumber gambar : pinterest

Kalau biasanya kita dulu di bangku sekolah biasanya disuruh membaca buku pelajaran berujung dengan kebosanan akut stadium empat, beda halnya kalau disuruh membaca buku-buku fiksi. Apalagi bagi para penggemarnya, dijamin itu mata langsung cling!

Ya! Karena dengan membaca buku fiksi kita sama halnya diajak berekreasi ke tempat-tempat menakjubkan dan luar biasa. Atau tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Hal tersebut akan membuat pikiran kita lebih rileks apalagi setelah penat bekerja atau sedang gabut di rumah saja.

Dengan memilih bacaan fiksi yang tepat, sensasi unik, seru, menegangkan serta menakutkan, bisa memperbaiki suasana hati yang buruk. Dengan fokus pada alur cerita dan pemaknaan baik isi di dalamnya, kalian dapat terhibur dengan baik.

Tidak ada salahnya membaca buku fiksi sesekali untuk menghibur diri. Kalau kamu penggemar cerita fiksi, wah, bisa juga dishare pengalaman serunya pada komentar di bawah ya!

Mengisi Waktu Senggang

Sumber gambar : pinterest
Sumber gambar : pinterest

Para siswa biasanya jika tidak memiliki agenda wajib saat liburan sekolah, pasti hanya di rumah saja. Makan, tidur, makan, tidur seperti penulis Soreane Sore wkwk. Itu tidak salah. Eh tapi, kan ga ada salahnya juga jika kita mengisi waktu tersebut dengan membaca. Apalagi buku fiksi. Jika kita sudah suntuk dengan buku pelajaran, maka bolehlah kita beralih sebentar ke novel, komik, atau bacaan fiksi lainnya.

Bahkan sekarang, sudah kita ketahui jika banyak aplikasi komik dan novel online yang tersedia di Google Play Store. Hanya butuh kuota saja, kita bisa berselancar ke dunia fantasi. Bebas. Eits, jangan anggap hal ini tidak memiliki manfaat ya. Karena, membaca buku fiksi memiliki dampak baik bagi diri. Contohnya ya seperti pernyataan di atas dan di bawah ini. Makanya, dilanjut dong bacanya, jangan setengah-setengah.

Menambah Wawasan

Sumber gambar : pinterest
Sumber gambar : pinterest

JANGAN SALAH! Ya jangan salah menilai buku fiksi. Meskipun kesannya dan isinya hanyalah khayalan sang penulis dalam menulis karangan ceritanya, namun, tidak sedikit buku fiksi mengandung pengetahuan terselip di dalamnya. Malah pelajaran moral sering disampaikan dari film-film kartun kan? Atau dari film-film fiktif lainnya. Bahkan di novel sejenis science fiction, kita malah bisa belajar sambil berimajinasi secara menarik. Tidak percaya? Silahkan coba sendiri. Masih tidak suka? Tidak apa-apa, ingat, karena semua orang bebas memilih favoritnya masing-masing.

Bahkan buku fiksi bisa dijadikan sebagai bahan referensi untuk tugas sekolah maupun kuliah. Tak jarang skripsi yang membahas novel-novel terkenal untuk dijadikan objek penelitiannya. Hemm, dari hal fiktif menjadi lebih ilmiah. Menarik.

Jadi Suka Berimajinasi

Sumber gambar : pinterest
Sumber gambar : pinterest

Dengan seringnya membaca buku bacaan fiksi, kita juga tidak jarang menjadi individu yang suka berimajinasi. Asal itu berimbas positif dalam kehidupan kita, maka sah-sah saja. Namun ada kalanya ketika kita menyaksikan berita di televisi atau media lainnya, orang melakukan pembunuhan dikarenakan melihat film yang mengandung unsur kekerasan dan hal yang tidak baik di dalamnya.

Nah! Oleh sebab itu, kita mesti hati-hati. Jangan sampai kita menjadi begitu fanatik terhadap sesuatu, dan salah dalam memilih sesuatu. Bahkan sampai tidak bisa membedakan mana imajinasi dan mana kenyataan. Terutama ya karena buku fiksi itu tadi. Sebab dalam psikologi, seperti yang dilansir dari halodoc.com, orang yang mengalami penyakit di mana ia tidak dapat membedakan mana khayalan dan mana kenyataan dinamakan dengan skizofrenia.

Atau bisa juga penyakit lainnya yang biasa disebut sebagai Maladaptive Daydreaming, yakni situasi seseorang saat terjebak di dalam khayalan mereka sendiri dalam waktu lama sehingga bisa mengabaikan interaksi sosial serta kewajiban yang ada di dunia nyata.  Tuh kan, hati-hati ya. Berlebihan memang tidak baik 🙂

Menumbuhkan Sifat Empati

Sumber gambar : pinterest
Sumber gambar : pinterest

Jangan salah juga, gara-gara membaca buku fiksi, orang bisa menjadi sebaik malaikat lho. Karena menurut Keith Oatley, yang merupakan psikolog dari Universitas Toronto, menyatakan bahwa, “Ketika kita membaca cerita tentang orang lain, kita masuk dalam sudut pandang dan pikiran tokoh tersebut. Ini membantu kita memahami orang lain lebih baik, dan membantu kita bekerjasama dengan orang lain.”

Di dalam penelitiannya yang lain, Oatley pun menemukan bagi mereka yang penggemar buku fiksi lebih memiliki tingkat empati tertinggi. Katanya, “Orang yang membaca buku fiksi lebih jago memahami perasaan dan sudut pandang orang lain,”

Oke itu dia informasi menarik seputar buku fiksi bagi kalian para pembaca yang setia. Semoga informasi yang sedikit ini bermanfaat yah. Sampai jumpa lagi 🙂

Referensi :

  • https://wahanariau.com/mobile/detailberita/20338/beberapa-alasan-kenapa-memilih-buku-fiksi-sebagai-bahan-bacaan
  • https://psikologihore.com/membaca-fiksi-buat-apa-sih/
  • https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-gejala-penyakit-skizofrenia
  • https://www.brainacademy.id/blog/maladaptive-daydreaming?hs_amp=true

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Soreane Sore