Yang Terlupakan dari Sejarah Pandemi Influenza 1918

Yang Terlupakan dari Sejarah Pandemi Influenza 1918

Sejarah berulang, begitu pula yang sedang berlangsung ini. Seabad silam, wabah juga melanda negeri ini.

Seyogyanya kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman pemerintah kolonial dalam menanggulangi di masa lampau.

Kajian sejarah wabah di Indonesia khususnya pada zaman kolonial dapat memperkaya khazanah pengetahuan mengenai penyakit menular.

Buku Yang Terlupakan: Sejarah di Hindia Belanda ditulis oleh Priyanto Wibowo, dkk, dan diterbitkan oleh Kerjasama antara Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Unicef Jakarta dan Komnas FBPI pada tahun 2009.

Buku setebal 226 halaman ini memotret sejarah   di Indonesia dari berbagai laporan arsip dan catatan pemerintahan kolonial. 

Buku ini mengulas dampak-dampak yang ditimbulkan oleh wabah penyakit ini pada masyarakat serta langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah kolonial untuk menanggulangi wabah tersebut.

Yang Terlupakan dari Sejarah Pandemi Influenza 1918

Dokumen utama yang ditelusuri adalah sumber arsip Kantoor voor Gezondheid Dienst selama tahun 1910-1942. Kata “Dienst” yang berarti “pelayanan” dalam bahasa Belanda telah diserap dalam bahasa Indonesia menjadi kata “Dinas”.

Fungsi pemerintah sejatinya adalah melayani masyarakat, termasuk pemerintah kolonial pada saat itu.

Dokumen lain terdiri atas berkas-berkas surat keputusan, telegram dan sebagainya. Koleksi Memorie van Overgave, yaitu laporan setiap kepala daerah pada akhir masa jabatan kepada Gubernur Jenderal tentang semua peristiwa yang terjadi di daerah kekuasaannya.

Baca juga  7 Hobi Penghilang Stres Di Masa Pandemi

Memorie van Overgave memuat informasi tentang saat terjadinya wabah penyakit, kebutuhan yang dihadapi, pertolongan yang diperlukan, dan koordinasi dengan tingkat pemerintahan di atasnya.

Sumber primer lainnya adalah jenis arsip leksikografi seperti Koloniaal Verslag dan Indische Verslag (pidato pertanggungjawaban Menteri Koloni sebagai wakil Ratu Belanda dalam sidang Parlemen Belanda), Regeeringsalmanak (almanak pemerintah), Staatsblad van Nederlandsch Indië (Lembaran Negara Hindia Belanda) dan Bijblad van het Staatsblad (Tambahan pada Lembaran Negara).

Sumber primer lain adalah majalah kesehatan dan surat kabar seperti Geneeskundige Tijdschrift van Nederlandsch Indië, yang memuat tulisan dari berbagai ahli kesehatan pada saat peristiwa berlangsung, termasuk laporan wabah penyakit dan penanggulangannya.

Selain dari sumber tertulis, buku ini juga mengulas arsip wawancara dan penelusuran memoar orang-orang yang terkait dengan peristiwa.

di Asia

Seabad silam, melanda dunia, termasuk Indonesia (kala itu masih dikenal sebagai Hindia Belanda). Namun informasi tentang di Indonesia masih terbatas.

Baca juga  Mencari Penghasilan Tambahan di Tengah Pandemi? Coba Usaha Ini!

Referensi tentang atau yang lebih dikenal dengan Flu Spanyol ini lebih banyak membahas tentang apa yang terjadi di Amerika Serikat, Eropa dan negara-negara besar lainnya.

Kawasan Asia mencatat jumlah korban yang besar. India diperkirakan terinfeksi wabah pada September , dengan jumlah total korban mencapai 18 juta orang. Iran diperkirakan kehilangan seperempat populasinya pada waktu itu.

Catatan pemerintah kolonial Belanda memperkirakan jumlah korban jiwa ini mencapai 1,5 juta jiwa, sementara riset Siddhart Chandra memperkirakan jumlah korban sekitar 4 juta jiwa.

Penulis sejarah flu, John M. Barry, menjelaskan dalam bukunya, The Great bahwa banyaknya korban meninggal dalam flu adalah kalangan usia muda.

Barry menjelaskan tentang “cytokine storm”, di mana  tubuh mengeluarkan banyak antibodi sebagai mekanisme sistem imun tubuh memerangi virus . Badai sitokin ini mengakibatkan terhalangnya jalur keluar-masuk oksigen.

Ada beragam faktor yang menyebabkan terjadinya lonjakan kematian saat wabah yakni antara lain respons pemerintah kolonial yang lambat & tidak tepat sasaran, koordinasi yang buruk antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, belum adanya vaksin, masyarakat yang sudah jengah dengan pandemi.

Baca juga  Lingkungan Dunia Membaik Karena Covid-19

Kondisi ini diperparah dengan maraknya berita hoaks, sirkulasi berita yang masih terbatas serta rendahnya tingkat literasi.

Saat wabah mulai merambah Asia, Cina ditengarai merupakan negara pertama yang terkena dan menjadi pintu masuk penyebaran ke negara-negara lain.

Pada bulan April , konsul Belanda di Singapura memberikan peringatan kepada pemerintah Hindia Belanda agar mencegah kapal-kapal dari Hongkong, jalur utama perkapalan Cina, merapat di dermaga Batavia.

Peraturan Karantina tahun 1911 memberikan wewenang kepada pejabat pemerintah untuk melakukan karantina terhadap daerah yang dinyatakan terkena wabah penyakit. Bagi mereka yang melakukan pelanggaran, dapat dikenakan hukuman pidana.

Saat menghadapi pandemi flu , masing-masing instansi dalam pemerintahan kolonial Hindia Belanda saling menunjukkan peran dan benturan kepentingan paling tampak jelas ketika pemerintah membentuk suatu tim khusus bagi penanggulangan influenza.

Pelajaran yang dapat diambil dari pengalaman wabah influenza tersebut antara lain adalah menghindari terjadinya persaingan antar instansi di jajaran pengambil kebijakan. Penanganan wabah harus melibatkan semua sektor, tidak hanya kesehatan.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Fajar Ramadhitya Putera