“Yaudahlah” Kata Ajaib Peredam Luka, Kok Bisa?


“Yaudahlah” Kata Ajaib Peredam Luka, Kok Bisa? 1

Banyak orang bilang, seiring bertambahnya umur kita akan semakin bertambah dewasa. Namun, pada kenyataannya sebuah angka tidak menjadi faktor utama untuk mengukur kedewasaan seseorang. Sebab, tua itu pasti tetapi dewasa itu pilihan. Semakin kita merasa dewasa, akan ada banyak hal yang bisa kita pelajari. Salah satunya yakni, belajar mendalami makna kata “Yaudahlah”

Maksud dari kata” Yaudahlah” disini adalah, apapun yang udah yaudahlah atau yang lalu biarlah berlalu. Mindset ini yang bisa membuat kita belajar untuk mikir berkali-kali buat benci sama orang. Sebenarnya rasa benci yang ada di diri kita itu adalah ego kita sendiri. Seperti terlalu memandang sempit seseorang, terlalu memikirkan keburukannya dan fokus membencinya. Padahal pada nyatanya, akan selalu ada hal-hal baik dalam dirinya yang mungkin belum sempat kita kulik. 


“Mencoba untuk belajar dari setiap sakit dan luka yang terukir dari setiap orang yang pernah hadir.”@adiraaliffa

Kata-kata di atas bisa dijadikan sebagai landasan agar bisa berpikir positif untuk siapapun yang pernah disakitin, ditinggalin, dikhianatin, dibohongin dan hal-hal buruk lainnya. Coba maafin deh. Dari dia kita juga dapat manfaat: bisa lebih kuat, nambah pengalaman, nambah pembelajaran, dan hal-hal baik lain yang kadang enggak kita sadari. Jadi kenapa harus benci? Memang sih, ada kerugian yang kita dapat juga seperti rasa sakit. Tapi yuk coba rubah mindset, kalau dibalik apapun yang negatif itu pasti ada sesuatu yang positif.

Inget kata-kata di bawah ini


“Dari setiap luka pasti selalu ada makna.”@adiraaliffa

“Tapi… aku udah kecewa banget sama dia. Pokoknya benci banget.”

Wajar kok wajar, kita berhak atas semua perasaan. Baik itu, sedih, kecewa, rapuh, hancur dan kawan-kawan. Kita ga salah kok, apa yang kita lakuin itu udah jadi kodratnya manusia yang punya hati. Emang ada orang yang disakitin orang ketawa? Enggak kan? 

“Aku gak suka sama dia, soalnya dia nyakitin aku.”

Gak suka itu boleh kok, tapi benci jangan yaa apalagi sampai dendam. Penyakit hati banget itu. Ingat kan kata Abang Dilan,

“Tidak mencintai/tidak menyukai bukan berarti membanci.”

Ya, aku setuju banget sama kata-katanya. Gak suka sama benci itu beda. Jangan disamain yak 🙂


“Tetap berikan cinta untuk banyak cinta dan bagikan kebahagiaan untuk hidup yang bahagia.”@adiraaliffa

Dunia ini ada beragam sifat manusia, dan dari mereka akan selalu ada hal baik yang bisa kita ambil kok. Adanya ketidakcocokan sama seseorang bisa membuat kita ga suka, dan itu wajar karena kan standar setiap orang juga berbeda. Sekali lagi, jangan benci ya, karena kebencian bisa memunculkan permusuhan dan permusuhan bisa memunculkan kekacauan. Padahal kan, kalau katanya Badiuzzaman Said Nursi yang merupakan seorang ulama polymath

“Yang paling layak kita musuhi adalah permusuhan itu sendiri, dan yang paling layak kita cintai adalah cinta itu sendiri.”

Yuk dicoba buat terus diterapin dalam hidup.

Fase denial (menolak) saat dihadapkan sama kenyataan yang menyakitkan adalah sebuah kewajaran dan kita butuh waktu untuk menerima semuanya sampai tiba di fase berhenti menyalahkan keadaan.  Kebahagiaan kita itu penting. Habis disakitin its okay sedih, kecewa, hancur, tapi habis itu bahagia lagi okay?


“Jangan pernah biarin orang-orang jauhin kita dari kata bahagia karena bahagia adalah hak segala jiwa dan raga.”@adiraaliffa

Diakhir kata, yuk merdekakan perasaan untuk melepaskan segala beban. Hidup akan terus berjalan. Jadi, kalau sampai saat ini masih larut sama perasaan yang menyakitkan, kapan mau bawa perubahan? Yuk lepas, ikhlas, akan selalu ada sesuatu yang lebih baik.

Semangat untuk hati-hati yang sedang memperjuangkan setiap rasa yang hendak diadili!!


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

adira putri

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap