Hal Yang Menyebabkan Novel Belenggu Di Tolak Oleh Balai Pustaka


Hal Yang Menyebabkan Novel Belenggu Di Tolak Oleh Balai Pustaka

Seperti yang kita ketahui bahwa pada Angkatan Balai Pustaka terkenal dengan sensornya yang ketat sehingga banyak karya sastra yang tidak diterbitkan bahkan ditarik dari pasar seperti novel “Belenggu” karya Armijn Pane.

Novel Belenggu ini merupakan novel psikologis Indonesia pertama.

Armijn Pane menyatakan bahwa setelah novel ini terbit, ia lebih banyak dicaci maki dari pada dipuji, baik secara langsung maupun melalui surat kabar.

Untuk melihat bagaimana korelasi dari novel Belenggu dengan keadaan serta situasi dari zaman pada tahun 1900-an yang merupakan zaman di mana budaya patriarki begitu melekat pada masyarakat.

Budaya patriarki sendiri lebih mengutamakan laki-laki dari pada perempuan dalam segala hal.

Seolah-olah hanya Laki-laki memiliki peran sebagai kontrol utama di dalam masyarakat, sedangkan perempuan hanya memiliki sedikit pengaruh atau bisa dikatakan tidak memiliki hak.

Cover Novel Belenggu

Dalam dunia sastra Indonesia, novel ini menampilkan aliran baru, zaman baru, dan gaya bahasa yang baru.

Sebelum muncul novel ini, isu yang menarik pengarang hanyalah dunia kawin paksa dan perjuangan kaum muda menghadapi adat.

Belenggu berkisah tentang peradaban baru melalui tokoh Tono dan Tini serta Yah.

Armijn Pane, penulis novel Belenggu, menulis novel tersebut mengenai penggambaran perselingkuhan sebagai hal yang umum, menjadi bagian alur dan emansipasi perempuan yaitu memperjuangkan hak dan kebebasan mereka dari kaum laki-laki.

Serta novel ini juga menunjukkan sifat modern dan tradisional itu berlawanan arah.

Hal inilah yang menjadi permasalahan atas penolakan yang dilakukan oleh balai Pustaka karena isinya dianggap tidak sesuai dengan kebijakan pada saat itu, kemudian pada tahun 1940 novel tersebut di terbitkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana melalui Pudjangga Baroe.

Novel ini menceritakan cinta segitiga antara seorang dokter, istrinya, dan temannya.

Cinta segitiga ini akhirnya membuat Ketiganya berada dalam konflik rumit yang ditambahkan dengan masalah dan rahasia masing-masing yang semakin memperburuk keadaan.

Pada Novel Belenggu, wacana perempuan dirasakan telah mengalami perkembangan.

Mulai adanya pemberontakan di dalamnya, di mana Tini akhirnya memutuskan untuk pergi dari kehidupan Tono agar Tono bahagia hidup, dengan Yah.

Pada novel ini juga terlihat bahwa Tini sebagai perempuan modern sangat ingin memajukan hak wanita untuk bisa memiliki persamaan hak dan bisa melakukan segala hal yang pria bisa lakukan dan tidak sebatas melayani suami.

Sedangkan pada zaman itu masih terpaku pada istri harus menuruti suami karena di sini ditunjukkan bahwa Yah mengatakan kepada Tini bahwa seolah-olah Tono itu tertarik pada Yah karena ia bisa ‘merawat’ suami atau laki-laki dengan baik dan menuruti kemauannya bahkan kesukaan kecil-kecilnya, dan hal tersebut menunjukkan bahwa pemikiran pada zaman itu adalah hak perempuan hanya sebatas menyenangkan suami.

Simpulannya adalah bahwa gaya penulisan Armijn Pane berbeda dengan penulis-penulis yang hidup di zamannya sehingga tidak sedikit orang yang mengkritiknya sebab karyanya memiliki amanat atau makna niat dan muatan yang telah membuat masyarakat pada zamannya ataupun sekarang ini berpikir kembali dengan kebudayaan patriarki ataupun sosial serta agama yang begitu lama telah melekat pada masyarakat, yaitu bahwa pandangan kedudukan wanita lebih rendah daripada laki-laki.

Amanat dari novel Belenggu berkontradiksi dengan budaya di masyarakat pada zaman itu, yaitu wanita memiliki hak untuk menyatakan pendapatnya dan tidak selalu tunduk kepada suami seakan-akan hanya suatu pemuas nafsu.